Selasa, 27 Januari 2026

Konsep Dasar Splicing dalam Komunikasi Optik


 



Berikut penjelasan Konsep Dasar Splicing dalam Komunikasi Optik yang disusun ringkas, sistematis, dan mudah dipahami (cocok untuk materi SMK / dasar jaringan):

1. Pengertian Splicing Fiber Optic

Splicing adalah proses menyambungkan dua ujung kabel fiber optik secara permanen sehingga cahaya (sinyal optik) dapat diteruskan dengan redaman (loss) sekecil mungkin.

Berbeda dengan connector, splicing tidak bisa dilepas-pasang dan umumnya digunakan pada:

  • Backbone jaringan
  • Joint closure
  • Perpanjangan kabel fiber optik

 

2. Tujuan Splicing

Tujuan utama splicing dalam komunikasi optik adalah:

  • Menghubungkan kabel fiber optik
  • Memperpanjang jalur transmisi
  • Memperbaiki kabel fiber yang putus
  • Menjaga kualitas sinyal optik
  • Mengurangi redaman dan refleksi

 

3. Prinsip Kerja Splicing

Splicing bekerja dengan prinsip:

a. Menyelaraskan core (inti) fiber optik secara presisi
b. Menggabungkan kedua ujung fiber sehingga:

  • Cahaya tetap merambat lurus
  • Pantulan (reflection) minimal
  • Kehilangan daya (loss) sangat kecil

Semakin presisi penyambungan core, semakin kecil nilai insertion loss.

 

4. Jenis-Jenis Splicing Fiber Optic

A. Fusion Splicing (Splicing Peleburan)

  • Menggunakan Fusion Splicer
  • Ujung fiber dilebur dengan arc listrik
  • Loss sangat kecil (± 0,01–0,05 dB)
  • Sambungan kuat dan tahan lama
  • Backbone FO
  • Jaringan ISP
  • Jaringan jarak jauh

Merupakan metode paling umum dan paling baik kualitasnya.

Ciri-ciri:

Digunakan untuk:

 

B. Mechanical Splicing (Splicing Mekanik)

  • Menggunakan alat mekanik dan gel optik
  • Lebih cepat dan murah
  • Loss lebih besar (± 0,2–0,5 dB)
  • Perbaikan darurat
  • Instalasi sementara
  • Latihan/praktikum

Metode penyambungan tanpa peleburan.

Ciri-ciri:

Digunakan untuk:

 

5. Komponen yang Terlibat dalam Splicing

Beberapa komponen penting dalam proses splicing:

  • Core : inti penghantar cahaya
  • Cladding : pembungkus core
  • Coating : pelindung fiber
  • Fusion Splicer
  • Fiber Cleaver
  • Stripper Fiber
  • Splice Protector (Sleeve)

 

6. Parameter Kualitas Splicing

A. Insertion Loss

Kehilangan daya akibat sambungan.

  • Standar baik: ≤ 0,1 dB
  • Semakin kecil, semakin baik

B. Return Loss

Pantulan cahaya ke arah sumber.

  • Nilai besar (dB tinggi) menandakan pantulan kecil

 

7. Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Splicing

a. Kebersihan ujung fiber
b. Ketepatan pemotongan (cleaving)
c. Keselarasan core
d. Jenis fiber (SM/MM)
e. Kualitas alat splicer
f. Keterampilan teknisi

 

8. Peran Splicing dalam Sistem Komunikasi Optik

Splicing sangat penting karena:

  • Menentukan keandalan jaringan
  • Mempengaruhi jarak transmisi
  • Berpengaruh langsung pada kecepatan dan kualitas data
  • Mengurangi gangguan dan error sinyal

 

9. Contoh Penerapan Splicing

  • Jaringan FTTH (Fiber To The Home)
  • Jaringan Metro Ethernet
  • Backbone antar gedung/kota
    • Sistem komunikasi data dan internet           

Terminasi Konektor Fiber Optics

Prosedur Penyambungan Kabel Fiber Optic Menggunakan Fast Connector

Panduan Praktikum Jaringan Fiber Optic

I. Persiapan Alat dan Bahan

Alat

  • Fiber Stripper (untuk coating & buffer)
  • Fiber Cleaver (pemotong presisi)
  • Crimp Tool Fiber Optic
  • Optical Power Meter & Light Source
  • Visual Fault Locator (VFL)
  • Cable Cutter

Bahan

  • Kabel Fiber Optic
  • Fast Connector Fiber Optic
  • Alkohol Isopropyl
  • Tisu Kering

II. Langkah-langkah Pemasangan

1. Pemotongan Kabel
Potong kabel fiber optic menggunakan cable cutter sesuai panjang yang diinginkan. 
2. Membelah Kabel
Belah bagian tengah kabel FO antara dua kabel kecil dan satu kawat baja hingga kabel terpisah menjadi dua bagian. 
3. Mengupas Jaket Luar
Tarik bagian kabel yang telah terbelah lalu kupas jaket luar sepanjang ±4 cm.
 
4. Mengupas Serat Kaca
Kupas lapisan serat kaca berwarna biru hingga tersisa kabel bening. 

5. Pembersihan Kabel
Bersihkan kabel menggunakan tisu yang telah diberi alkohol isopropyl. 
6. Pemasangan Fast Connector
Ukur dan potong kabel menggunakan fiber cleaver lalu masukkan ke fast connector. Sisakan sedikit lipatan di dalam agar kabel tidak kendor. 


7. Pengujian Sinyal
Cek sinyal menggunakan VFL. Jika cahaya tembus, pemasangan berhasil. 
8. Pengulangan di Ujung Kabel
Ulangi langkah 1–7 pada ujung kabel satunya dan pastikan sinar laser dapat diteruskan.
9. Pengukuran Daya Optik
Ukur daya optik menggunakan Optical Power Meter dan Light Source. Nilai minimal yang diizinkan adalah −40 dBm. 
 

III. Hasil Pengukuran

Hasil pengukuran menggunakan Optical Power Meter menunjukkan daya optik sebesar −23,55 dBm pada panjang gelombang 1310 nm. Karena nilai tersebut masih di atas batas minimal −40 dBm, maka kabel fiber optic dinyatakan baik dan layak digunakan.

Selasa, 25 November 2025

Tugas Kelompok Presentasi IP

  









Memahami prinsip kerja dan teknologi fiber optic

 Fiber optic bekerja berdasarkan prinsip fisika yang disebut pemantulan total internal (total internal reflection). Ketika cahaya dimasukkan ke dalam inti serat (core), cahaya tersebut akan dipantulkan berkali-kali oleh cladding yang memiliki indeks bias lebih rendah. Karena pantulan terjadi terus-menerus tanpa keluar dari inti, cahaya dapat berjalan sangat jauh dalam kabel.

1. Cara Kerja Fiber Optic

Fiber optic terdiri dari tiga bagian utama: core, cladding, dan jacket. Cahaya dikirim dari perangkat transmitter yang mengubah sinyal listrik menjadi cahaya menggunakan LED atau laser. Setelah cahaya memasuki kabel, ia dipantulkan sepanjang jalur hingga mencapai ujung penerima (receiver). Receiver kemudian mengubah cahaya tersebut kembali menjadi sinyal listrik.

Keunggulan utama teknologi ini adalah tidak adanya interferensi elektromagnetik. Berbeda dengan kabel tembaga yang bisa terganggu oleh sinyal listrik atau radio, fiber optic tidak terpengaruh karena menggunakan cahaya. Ini membuat fiber optic mampu menghantarkan data dengan sangat stabil dan aman.

2. Teknologi Pendukung Fiber Optic

Ada beberapa teknologi yang membuat fiber optic semakin efisien dan cepat.

a. DWDM (Dense Wavelength Division Multiplexing)

DWDM memungkinkan banyak sinyal cahaya berbeda dikirim bersamaan melalui satu serat. Setiap sinyal menggunakan panjang gelombang yang berbeda. Teknologi ini banyak digunakan pada jaringan backbone ISP dan komunikasi jarak jauh.

b. GPON (Gigabit Passive Optical Network)

GPON adalah teknologi yang digunakan untuk layanan internet fiber ke rumah (FTTH). Teknologi ini bersifat pasif, artinya tidak memerlukan perangkat aktif di sepanjang jalur kabel, sehingga biaya instalasi lebih rendah. GPON mendukung kecepatan gigabit dan digunakan oleh ISP di seluruh dunia.

c. Optical Amplifier

Penguat optik (seperti EDFA – Erbium-Doped Fiber Amplifier) memperkuat sinyal cahaya tanpa perlu mengubahnya menjadi sinyal listrik. Ini sangat efisien untuk komunikasi jarak jauh.

3. Manfaat Penggunaan Fiber Optic

  • Kecepatan sangat tinggi

  • Kapasitas bandwidth besar

  • Stabil dan tidak mudah terganggu

  • Keamanan data lebih baik

  • Mendukung jarak jauh tanpa repeater

Dengan berbagai teknologi pendukungnya, fiber optic menjadi tiang utama dalam jaringan modern dan akan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan internet berkecepatan tinggi

Memilih Kabel Fiber Optic Sesuai Kebutuhan

 Pemilihan kabel fiber optic harus disesuaikan dengan kebutuhan instalasi, jarak, serta lingkungan. Berikut panduan singkat yang dapat digunakan:

1. Tentukan Jarak Transmisi

  • Untuk jarak jauh (lebih dari 2 km): Single-Mode Fiber (SMF).

  • Untuk jarak pendek: Multi-Mode Fiber (MMF).

2. Perhatikan Lingkungan Instalasi

  • Indoor: gunakan kabel Tight Buffer karena lebih fleksibel.

  • Outdoor: gunakan kabel Loose Tube yang tahan cuaca.

  • Kondisi tanah atau rawan gigitan hewan: gunakan Armored Fiber (berlapis baja).

  • Tiang atau udara: gunakan Aerial Fiber dengan kabel messenger.

3. Kebutuhan Keamanan dan Bandwidth

  • Jaringan backbone atau ISP: gunakan Single-Mode dengan jenis kabel penguatan ekstra.

  • Jaringan kantor atau kampus: Multi-Mode OM3/OM4 untuk performa tinggi (misalnya untuk switch 10Gbps atau 40Gbps).

4. Sesuaikan dengan Anggaran

Multi-Mode lebih murah dari Single-Mode, namun jarak dan performanya berbeda.
Pastikan memilih kabel berdasarkan kebutuhan teknis, bukan sekadar harga.

Sumber:

  • https://www.te.com

  • Memahami Jaringan Fiber Optic

     Kabel fiber optic memiliki beberapa jenis yang berbeda, baik berdasarkan cara cahaya ditransmisikan maupun berdasarkan struktur fisiknya. Secara umum, fiber optic dibagi menjadi dua jenis utama: Single-Mode Fiber (SMF) dan Multi-Mode Fiber (MMF).

    1. Single-Mode Fiber (SMF)

    Single-Mode Fiber memiliki ukuran inti (core) yang sangat kecil, biasanya sekitar 9 mikrometer. Karena ukurannya kecil, hanya satu mode cahaya yang bisa melewati serat ini. Hal ini membuat cahaya dapat berjalan lurus tanpa banyak pantulan, sehingga loss (kehilangan sinyal) menjadi sangat kecil.

    Kabel SMF sering digunakan untuk komunikasi jarak jauh, misalnya jaringan antar kota, antar negara, kabel bawah laut, atau jaringan backbone ISP. Perangkat yang digunakan untuk SMF cenderung lebih mahal, tetapi kabel ini sanggup mengirim data hingga ratusan kilometer tanpa membutuhkan repeater.

    2. Multi-Mode Fiber (MMF)

    Multi-Mode Fiber memiliki inti yang lebih besar, sekitar 50–62,5 mikrometer. Karena inti lebih besar, banyak mode cahaya dapat melewati serat secara bersamaan. Hal ini membuat cahaya di dalam kabel memantul lebih banyak, sehingga jangkauan kabel menjadi lebih pendek.

    MMF biasanya digunakan pada jaringan jarak pendek seperti dalam gedung, jaringan kampus, laboratorium, dan data center. Kabel MMF tergolong lebih murah dan lebih mudah diinstal, sehingga cocok untuk penggunaan skala menengah.

    Selain pembagian berdasarkan mode cahaya, kabel fiber optic juga dibedakan berdasarkan konstruksi fisiknya:

    3. Tight Buffer

    Kabel jenis ini digunakan untuk instalasi indoor. Memiliki lapisan pelindung yang tebal sehingga kuat dan mudah dipasang. Cocok untuk instalasi di dinding, rak server, dan ruangan kantor.

    4. Loose Tube

    Kabel ini banyak digunakan untuk instalasi outdoor karena memiliki perlindungan yang baik terhadap air, suhu ekstrem, dan tekanan lingkungan. Biasanya digunakan untuk jaringan antar gedung atau backbone kampus.

    5. Armored Fiber

    Kabel ini memiliki lapisan baja di dalamnya, sehingga tahan terhadap gigitan tikus, tekanan tanah, dan kondisi lingkungan kasar. Biasanya dipakai untuk jaringan yang ditanam di tanah.

    6. Aerial Fiber

    Merupakan kabel yang dipasang di udara, misalnya pada tiang listrik. Kabel ini dilengkapi dengan kawat penguat (messenger) agar kuat menahan angin dan tarikan gravitasi.

    Setiap jenis kabel memiliki keunggulan masing-masing dan digunakan sesuai dengan kebutuhan instalasi.

    Memahami Jaringan Fiber Optic

     Fiber optic adalah teknologi penghantaran data yang menggunakan serat kaca atau plastik yang berukuran sangat kecil—bahkan lebih tipis dari sehelai rambut manusia. Serat ini digunakan untuk mengirimkan sinyal cahaya dari satu titik ke titik lainnya. Karena menggunakan cahaya, fiber optic mampu melakukan transmisi data dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dibanding kabel logam seperti tembaga.

    Jaringan fiber optic bekerja dengan cara mengubah sinyal listrik menjadi cahaya oleh perangkat pemancar (transmitter). Cahaya tersebut kemudian masuk ke inti serat (core), dan dipantulkan berkali-kali oleh lapisan cladding sehingga tetap berada di dalam jalur kabel. Proses ini membuat cahaya bisa merambat sangat jauh tanpa keluar dari kabel dan tanpa banyak mengalami penurunan kualitas sinyal.

    Dalam dunia jaringan modern, fiber optic adalah pilihan utama untuk berbagai kebutuhan. Fiber optic digunakan pada infrastruktur internet rumah, jaringan kampus, jaringan perkantoran, data center, jaringan backbone ISP, hingga komunikasi jarak jauh antarnegara yang menggunakan kabel bawah laut. Kelebihan utama fiber optic meliputi kecepatan tinggi, bandwidth besar, tahan interferensi elektromagnetik, latensi rendah, serta lebih aman dari penyadapan.

    Struktur fiber optic terdiri dari tiga bagian utama, yaitu core (inti), cladding (lapisan pemantul cahaya), dan jacket (pelindung luar). Setiap bagian memiliki fungsi penting dalam menjaga agar cahaya dapat merambat dengan baik di dalam kabel. Core dan cladding terbuat dari kaca atau plastik khusus, sedangkan jacket biasanya terbuat dari bahan yang fleksibel dan tahan lingkungan.

    Dengan keunggulan-keunggulannya, jaringan fiber optic telah menjadi tulang punggung komunikasi modern dan menjadi teknologi utama dalam pengembangan jaringan berkecepatan tinggi.

    VLSM

     

     Misalnya kita punya Network: 192.168.10.0/25 dan kebutuhan:

    Subnet A = 60 host

    Subnet B = 24 host

    Subnet C = 12 host

    Subnet D = 5 host

    Buat solusinya dengan VLSM dengan menggunakan Diagram Visual — Alur Perhitungan VLSM


    Solusi dengan VLSM:    

    # Subnet A (60 host) --> butuh /26 (64 alamat, 62 host) --> 192.168.10.0/26

    # Subnet B (24 host) --> butuh /27 (32 alamat, 30 host) --> 192.168.10.0/27

    # Subnet C (12 host) --> butuh /28 (16 alamat, 14 host) --> 192.168.10.0/28

    # Subnet D (  5 host) --> butuh /29 (8   alamat,  6   host) --> 192.168.10.0/29


    Semua kebutuhan host terpenuhi tanpa boros IP

    Selasa, 11 November 2025

    IP Address 192.168.1.0/29 - untuk subnet ke 4

     192.168.1.0/29

    11111111.11111111.11111111.11111000
    255.255.255.248

    Perhitungan:

    Jumlah subnet = 2^x
    = 2^5
    = 32

    Jumlah host = 2^y
    = 2^3
    = 8

    Blok subnet = 256 - 248
    = 8

    Berarti total ada 32 subnet dimulai dari:
    0, 8, 16, 24, 32, 40, 48, 56, 64, 72, 80, 88, 96, 104, 112, 120, 128, 136, 144, 152, 160, 168, 176, 184, 192, 200, 208, 216, 224, 232, 240, 248

    Karena absen saya 4, maka saya menggunakan angka ke-4 yaitu 24

    Jadi hasilnya:
    Subnet = 192.168.1.24
    Host pertama = 192.168.1.25
    Host terakhir = 192.168.1.30
    Broadcast = 192.168.1.31

    Minggu, 26 Oktober 2025

    VLSM (Variable Length Subnet Mask) dalam Pengaturan IP Address

     





    📌 Apa itu VLSM?

    VLSM adalah teknik dalam perancangan jaringan IP yang memungkinkan penggunaan berbagai ukuran subnet mask dalam satu blok IP. Dengan kata lain, tidak semua subnet harus memiliki ukuran yang sama—beberapa dapat menggunakan subnet mask yang lebih kecil atau lebih besar sesuai kebutuhan jumlah host. netmaker.io+3GeeksforGeeks+3TechTarget+3
    Contoh: jika Anda memiliki jaringan 192.168.1.0/24 dan ada satu segmen dengan 100 host dan satu segmen lain dengan hanya 10 host, VLSM memungkinkan Anda memberikan subnet /25 untuk segmen 100 host dan /28 untuk segmen 10 host—mencegah banyak alamat IP yang terbuang. netmaker.io+2Study CCNA+2

    🎯 Mengapa VLSM penting?

    • Efisiensi Alamat: Dengan VLSM, alokasi IP bisa lebih tepat sesuai kebutuhan, meminimalkan sisa blok yang tidak dipakai. networkacademy.io+1

    • Fleksibilitas Desain Jaringan: Segmen-jaringan dengan jumlah host yang berbeda bisa memakai ukuran subnet yang berbeda pula. PyNet Labs

    • Mendukung Routing Modern: VLSM biasanya digunakan bersama protokol routing yang mendukung subnet mask variabel seperti OSPF, EIGRP, dan BGP. TechTarget

    🧮 Bagaimana VLSM Bekerja?

    Langkah-umumnya:

    1. Identifikasi kebutuhan jumlah host tiap subnet. Study CCNA+1

    2. Urutkan subnet dari yang terbesar ke yang terkecil agar alokasi blok IP bisa lebih optimal. GeeksforGeeks+1

    3. Pilih subnet mask yang sesuai: misalnya /25 untuk ~120 host (126 host usable), /26 untuk ~50 host (~62 usable), /27 untuk ~30 host (~30 usable) dan seterusnya. GeeksforGeeks+1

    4. Alokasikan alamat IP berdasarkan blok yang sudah dihitung untuk tiap segmen. Pastikan routing mendukung mask variabel. networkacademy.io+1

    ✅ Kelebihan & ⚠️ Kekurangan

    Kelebihan:

    • Penggunaan alamat IP yang lebih efisien. Comparitech+1

    • Desain subnet yang lebih fleksibel sesuai kebutuhan bisnis atau organisasi.

    Kekurangan:

    • Perencanaan lebih kompleks dan lebih banyak perhitungan dibanding metode fixed-sized subnet. netmaker.io

    • Harus menggunakan protokol routing yang mendukung VLSM; protokol lama yang hanya mendukung panjang mask tetap tidak cukup. networkacademy.io

    💡 Contoh Singkat

    Misalnya: blok alamat 192.168.10.0/24 akan dibagi menjadi beberapa subnet menggunakan VLSM:

    • Segmen A: 50 host → gunakan /26 (mask 255.255.255.192), bisa menampung ~62 host. Study CCNA

    • Segmen B: 30 host → gunakan /27 (mask 255.255.255.224), bisa menampung ~30 host.

    • WAN link (2 host) → gunakan /30 (mask 255.255.255.252) untuk menghemat. Study CCNA


    📝 Kesimpulan

    VLSM memungkinkan alokasi subnet yang dinamis dan sesuai kebutuhan dalam satu ruang alamat IP. Teknik ini membantu organisasi memanfaatkan alamat IPv4 secara lebih baik dan fleksibel, tetapi memerlukan perencanaan dan routing yang tepat agar efektif. Jika organisasi Anda memiliki berbagai segmen dengan kebutuhan host yang berbeda, maka VLSM adalah pilihan yang sangat cocok.


    Konsep Dasar Splicing dalam Komunikasi Optik

      Berikut penjelasan Konsep Dasar Splicing dalam Komunikasi Optik yang disusun ringkas, sistematis, dan mudah dipahami (cocok untuk materi S...