Siapkan alat dan bahan:
T8 04 ALFATHIR BREVY MICEAE LOIS
Selasa, 10 Februari 2026
Selasa, 27 Januari 2026
Konsep Dasar Splicing dalam Komunikasi Optik
Berikut penjelasan Konsep Dasar Splicing dalam Komunikasi Optik yang disusun ringkas, sistematis, dan mudah dipahami (cocok untuk materi SMK / dasar jaringan):
1. Pengertian Splicing Fiber Optic
Splicing adalah proses menyambungkan dua ujung kabel fiber optik secara permanen sehingga cahaya (sinyal optik) dapat diteruskan dengan redaman (loss) sekecil mungkin.
Berbeda dengan connector, splicing tidak bisa dilepas-pasang dan umumnya digunakan pada:
- Backbone jaringan
- Joint closure
- Perpanjangan kabel fiber optik
2. Tujuan Splicing
Tujuan utama splicing dalam komunikasi optik adalah:
- Menghubungkan kabel fiber optik
- Memperpanjang jalur transmisi
- Memperbaiki kabel fiber yang putus
- Menjaga kualitas sinyal optik
- Mengurangi redaman dan refleksi
3. Prinsip Kerja Splicing
Splicing bekerja dengan prinsip:
a. Menyelaraskan core (inti) fiber optik secara presisi
b. Menggabungkan kedua ujung fiber sehingga:
- Cahaya tetap merambat lurus
- Pantulan (reflection) minimal
- Kehilangan daya (loss) sangat kecil
Semakin presisi penyambungan core, semakin kecil nilai insertion loss.
4. Jenis-Jenis Splicing Fiber Optic
A. Fusion Splicing (Splicing Peleburan)
- Menggunakan Fusion Splicer
- Ujung fiber dilebur dengan arc listrik
- Loss sangat kecil (± 0,01–0,05 dB)
- Sambungan kuat dan tahan lama
- Backbone FO
- Jaringan ISP
- Jaringan jarak jauh
Merupakan metode paling umum dan paling baik kualitasnya.
Ciri-ciri:
Digunakan untuk:
B. Mechanical Splicing (Splicing Mekanik)
- Menggunakan alat mekanik dan gel optik
- Lebih cepat dan murah
- Loss lebih besar (± 0,2–0,5 dB)
- Perbaikan darurat
- Instalasi sementara
- Latihan/praktikum
Metode penyambungan tanpa peleburan.
Ciri-ciri:
Digunakan untuk:
5. Komponen yang Terlibat dalam Splicing
Beberapa komponen penting dalam proses splicing:
- Core : inti penghantar cahaya
- Cladding : pembungkus core
- Coating : pelindung fiber
- Fusion Splicer
- Fiber Cleaver
- Stripper Fiber
- Splice Protector (Sleeve)
6. Parameter Kualitas Splicing
A. Insertion Loss
Kehilangan daya akibat sambungan.
- Standar baik: ≤ 0,1 dB
- Semakin kecil, semakin baik
B. Return Loss
Pantulan cahaya ke arah sumber.
- Nilai besar (dB tinggi) menandakan pantulan kecil
7. Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Splicing
a. Kebersihan ujung fiber
b. Ketepatan pemotongan (cleaving)
c. Keselarasan core
d. Jenis fiber (SM/MM)
e. Kualitas alat splicer
f. Keterampilan teknisi
8. Peran Splicing dalam Sistem Komunikasi Optik
Splicing sangat penting karena:
- Menentukan keandalan jaringan
- Mempengaruhi jarak transmisi
- Berpengaruh langsung pada kecepatan dan kualitas data
- Mengurangi gangguan dan error sinyal
9. Contoh Penerapan Splicing
- Jaringan FTTH (Fiber To The Home)
- Jaringan Metro Ethernet
- Backbone antar gedung/kota
- Sistem komunikasi data dan internet
Terminasi Konektor Fiber Optics
Prosedur Penyambungan Kabel Fiber Optic Menggunakan Fast Connector
Panduan Praktikum Jaringan Fiber Optic
I. Persiapan Alat dan Bahan
Alat
- Fiber Stripper (untuk coating & buffer)
- Fiber Cleaver (pemotong presisi)
- Crimp Tool Fiber Optic
- Optical Power Meter & Light Source
- Visual Fault Locator (VFL)
- Cable Cutter
II. Langkah-langkah Pemasangan
Potong kabel fiber optic menggunakan cable cutter sesuai panjang yang diinginkan.
Belah bagian tengah kabel FO antara dua kabel kecil dan satu kawat baja hingga kabel terpisah menjadi dua bagian.
Tarik bagian kabel yang telah terbelah lalu kupas jaket luar sepanjang ±4 cm.
Kupas lapisan serat kaca berwarna biru hingga tersisa kabel bening.
Ukur dan potong kabel menggunakan fiber cleaver lalu masukkan ke fast connector. Sisakan sedikit lipatan di dalam agar kabel tidak kendor.
Cek sinyal menggunakan VFL. Jika cahaya tembus, pemasangan berhasil.
Ulangi langkah 1–7 pada ujung kabel satunya dan pastikan sinar laser dapat diteruskan.
Ukur daya optik menggunakan Optical Power Meter dan Light Source. Nilai minimal yang diizinkan adalah −40 dBm.
III. Hasil Pengukuran
Selasa, 25 November 2025
Memahami prinsip kerja dan teknologi fiber optic
Fiber optic bekerja berdasarkan prinsip fisika yang disebut pemantulan total internal (total internal reflection). Ketika cahaya dimasukkan ke dalam inti serat (core), cahaya tersebut akan dipantulkan berkali-kali oleh cladding yang memiliki indeks bias lebih rendah. Karena pantulan terjadi terus-menerus tanpa keluar dari inti, cahaya dapat berjalan sangat jauh dalam kabel.
1. Cara Kerja Fiber Optic
Fiber optic terdiri dari tiga bagian utama: core, cladding, dan jacket. Cahaya dikirim dari perangkat transmitter yang mengubah sinyal listrik menjadi cahaya menggunakan LED atau laser. Setelah cahaya memasuki kabel, ia dipantulkan sepanjang jalur hingga mencapai ujung penerima (receiver). Receiver kemudian mengubah cahaya tersebut kembali menjadi sinyal listrik.
Keunggulan utama teknologi ini adalah tidak adanya interferensi elektromagnetik. Berbeda dengan kabel tembaga yang bisa terganggu oleh sinyal listrik atau radio, fiber optic tidak terpengaruh karena menggunakan cahaya. Ini membuat fiber optic mampu menghantarkan data dengan sangat stabil dan aman.
2. Teknologi Pendukung Fiber Optic
Ada beberapa teknologi yang membuat fiber optic semakin efisien dan cepat.
a. DWDM (Dense Wavelength Division Multiplexing)
DWDM memungkinkan banyak sinyal cahaya berbeda dikirim bersamaan melalui satu serat. Setiap sinyal menggunakan panjang gelombang yang berbeda. Teknologi ini banyak digunakan pada jaringan backbone ISP dan komunikasi jarak jauh.
b. GPON (Gigabit Passive Optical Network)
GPON adalah teknologi yang digunakan untuk layanan internet fiber ke rumah (FTTH). Teknologi ini bersifat pasif, artinya tidak memerlukan perangkat aktif di sepanjang jalur kabel, sehingga biaya instalasi lebih rendah. GPON mendukung kecepatan gigabit dan digunakan oleh ISP di seluruh dunia.
c. Optical Amplifier
Penguat optik (seperti EDFA – Erbium-Doped Fiber Amplifier) memperkuat sinyal cahaya tanpa perlu mengubahnya menjadi sinyal listrik. Ini sangat efisien untuk komunikasi jarak jauh.
3. Manfaat Penggunaan Fiber Optic
-
Kecepatan sangat tinggi
-
Kapasitas bandwidth besar
-
Stabil dan tidak mudah terganggu
-
Keamanan data lebih baik
-
Mendukung jarak jauh tanpa repeater
Dengan berbagai teknologi pendukungnya, fiber optic menjadi tiang utama dalam jaringan modern dan akan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan internet berkecepatan tinggi
Memilih Kabel Fiber Optic Sesuai Kebutuhan
Pemilihan kabel fiber optic harus disesuaikan dengan kebutuhan instalasi, jarak, serta lingkungan. Berikut panduan singkat yang dapat digunakan:
1. Tentukan Jarak Transmisi
-
Untuk jarak jauh (lebih dari 2 km): Single-Mode Fiber (SMF).
-
Untuk jarak pendek: Multi-Mode Fiber (MMF).
2. Perhatikan Lingkungan Instalasi
-
Indoor: gunakan kabel Tight Buffer karena lebih fleksibel.
-
Outdoor: gunakan kabel Loose Tube yang tahan cuaca.
-
Kondisi tanah atau rawan gigitan hewan: gunakan Armored Fiber (berlapis baja).
-
Tiang atau udara: gunakan Aerial Fiber dengan kabel messenger.
3. Kebutuhan Keamanan dan Bandwidth
-
Jaringan backbone atau ISP: gunakan Single-Mode dengan jenis kabel penguatan ekstra.
-
Jaringan kantor atau kampus: Multi-Mode OM3/OM4 untuk performa tinggi (misalnya untuk switch 10Gbps atau 40Gbps).
4. Sesuaikan dengan Anggaran
Multi-Mode lebih murah dari Single-Mode, namun jarak dan performanya berbeda.
Pastikan memilih kabel berdasarkan kebutuhan teknis, bukan sekadar harga.
Sumber:
Memahami Jaringan Fiber Optic
Kabel fiber optic memiliki beberapa jenis yang berbeda, baik berdasarkan cara cahaya ditransmisikan maupun berdasarkan struktur fisiknya. Secara umum, fiber optic dibagi menjadi dua jenis utama: Single-Mode Fiber (SMF) dan Multi-Mode Fiber (MMF).
1. Single-Mode Fiber (SMF)
Single-Mode Fiber memiliki ukuran inti (core) yang sangat kecil, biasanya sekitar 9 mikrometer. Karena ukurannya kecil, hanya satu mode cahaya yang bisa melewati serat ini. Hal ini membuat cahaya dapat berjalan lurus tanpa banyak pantulan, sehingga loss (kehilangan sinyal) menjadi sangat kecil.
Kabel SMF sering digunakan untuk komunikasi jarak jauh, misalnya jaringan antar kota, antar negara, kabel bawah laut, atau jaringan backbone ISP. Perangkat yang digunakan untuk SMF cenderung lebih mahal, tetapi kabel ini sanggup mengirim data hingga ratusan kilometer tanpa membutuhkan repeater.
2. Multi-Mode Fiber (MMF)
Multi-Mode Fiber memiliki inti yang lebih besar, sekitar 50–62,5 mikrometer. Karena inti lebih besar, banyak mode cahaya dapat melewati serat secara bersamaan. Hal ini membuat cahaya di dalam kabel memantul lebih banyak, sehingga jangkauan kabel menjadi lebih pendek.
MMF biasanya digunakan pada jaringan jarak pendek seperti dalam gedung, jaringan kampus, laboratorium, dan data center. Kabel MMF tergolong lebih murah dan lebih mudah diinstal, sehingga cocok untuk penggunaan skala menengah.
Selain pembagian berdasarkan mode cahaya, kabel fiber optic juga dibedakan berdasarkan konstruksi fisiknya:
3. Tight Buffer
Kabel jenis ini digunakan untuk instalasi indoor. Memiliki lapisan pelindung yang tebal sehingga kuat dan mudah dipasang. Cocok untuk instalasi di dinding, rak server, dan ruangan kantor.
4. Loose Tube
Kabel ini banyak digunakan untuk instalasi outdoor karena memiliki perlindungan yang baik terhadap air, suhu ekstrem, dan tekanan lingkungan. Biasanya digunakan untuk jaringan antar gedung atau backbone kampus.
5. Armored Fiber
Kabel ini memiliki lapisan baja di dalamnya, sehingga tahan terhadap gigitan tikus, tekanan tanah, dan kondisi lingkungan kasar. Biasanya dipakai untuk jaringan yang ditanam di tanah.
6. Aerial Fiber
Merupakan kabel yang dipasang di udara, misalnya pada tiang listrik. Kabel ini dilengkapi dengan kawat penguat (messenger) agar kuat menahan angin dan tarikan gravitasi.
Setiap jenis kabel memiliki keunggulan masing-masing dan digunakan sesuai dengan kebutuhan instalasi.
Memahami Jaringan Fiber Optic
Fiber optic adalah teknologi penghantaran data yang menggunakan serat kaca atau plastik yang berukuran sangat kecil—bahkan lebih tipis dari sehelai rambut manusia. Serat ini digunakan untuk mengirimkan sinyal cahaya dari satu titik ke titik lainnya. Karena menggunakan cahaya, fiber optic mampu melakukan transmisi data dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dibanding kabel logam seperti tembaga.
Jaringan fiber optic bekerja dengan cara mengubah sinyal listrik menjadi cahaya oleh perangkat pemancar (transmitter). Cahaya tersebut kemudian masuk ke inti serat (core), dan dipantulkan berkali-kali oleh lapisan cladding sehingga tetap berada di dalam jalur kabel. Proses ini membuat cahaya bisa merambat sangat jauh tanpa keluar dari kabel dan tanpa banyak mengalami penurunan kualitas sinyal.
Dalam dunia jaringan modern, fiber optic adalah pilihan utama untuk berbagai kebutuhan. Fiber optic digunakan pada infrastruktur internet rumah, jaringan kampus, jaringan perkantoran, data center, jaringan backbone ISP, hingga komunikasi jarak jauh antarnegara yang menggunakan kabel bawah laut. Kelebihan utama fiber optic meliputi kecepatan tinggi, bandwidth besar, tahan interferensi elektromagnetik, latensi rendah, serta lebih aman dari penyadapan.
Struktur fiber optic terdiri dari tiga bagian utama, yaitu core (inti), cladding (lapisan pemantul cahaya), dan jacket (pelindung luar). Setiap bagian memiliki fungsi penting dalam menjaga agar cahaya dapat merambat dengan baik di dalam kabel. Core dan cladding terbuat dari kaca atau plastik khusus, sedangkan jacket biasanya terbuat dari bahan yang fleksibel dan tahan lingkungan.
Dengan keunggulan-keunggulannya, jaringan fiber optic telah menjadi tulang punggung komunikasi modern dan menjadi teknologi utama dalam pengembangan jaringan berkecepatan tinggi.
VLSM
Misalnya kita punya Network: 192.168.10.0/25 dan kebutuhan:
Subnet A = 60 host
Subnet B = 24 host
Subnet C = 12 host
Subnet D = 5 host
Buat solusinya dengan VLSM dengan menggunakan Diagram Visual — Alur Perhitungan VLSM
Solusi dengan VLSM:
# Subnet A (60 host) --> butuh /26 (64 alamat, 62 host) --> 192.168.10.0/26
# Subnet B (24 host) --> butuh /27 (32 alamat, 30 host) --> 192.168.10.0/27
# Subnet C (12 host) --> butuh /28 (16 alamat, 14 host) --> 192.168.10.0/28
# Subnet D ( 5 host) --> butuh /29 (8 alamat, 6 host) --> 192.168.10.0/29
Semua kebutuhan host terpenuhi tanpa boros IP
Selasa, 11 November 2025
IP Address 192.168.1.0/29 - untuk subnet ke 4
192.168.1.0/29
11111111.11111111.11111111.11111000
255.255.255.248
Perhitungan:
Jumlah subnet = 2^x
= 2^5
= 32
Jumlah host = 2^y
= 2^3
= 8
Blok subnet = 256 - 248
= 8
Berarti total ada 32 subnet dimulai dari:
0, 8, 16, 24, 32, 40, 48, 56, 64, 72, 80, 88, 96, 104, 112, 120, 128, 136, 144, 152, 160, 168, 176, 184, 192, 200, 208, 216, 224, 232, 240, 248
Karena absen saya 4, maka saya menggunakan angka ke-4 yaitu 24
Jadi hasilnya:
Subnet = 192.168.1.24
Host pertama = 192.168.1.25
Host terakhir = 192.168.1.30
Broadcast = 192.168.1.31
PRAKTIKUM SPLICING KLOMPOK 1 : ALFATHIR BREVY MICAE LOIS ADILA NAZRIL AHMAD
Siapkan alat dan bahan: Alat: 1. Fiber Stripper (untuk coating & buffer) 2. Fiber Cleaver (pemotong presisi) 3. Crimp Tool FO 4. Optic...
-
Daftar 15 Perusahaan Beserta IP Address, Kelas IP, dan Subnet Mask Berikut ini data 15 perusahaan besar Indonesia lengkap dengan alamat ...
-
Pengertian Wildcard Mask Wildcard Mask adalah kebalikan dari Subnet Mask , digunakan terutama dalam pengaturan Access Control L...